<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3710819030138743068</id><updated>2011-04-21T17:38:58.633-07:00</updated><title type='text'>Art and Craft Karacca</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Karacca01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15202769962580860725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mMRmJNwDXyw/Si_Df6dG2gI/AAAAAAAAAoM/RhKHTulWWOE/S220/Foto(465).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3710819030138743068.post-2311849857635775858</id><published>2008-12-28T05:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T05:49:45.024-08:00</updated><title type='text'>Meraba peta komunitas seni rupa Indonesia</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="5" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="title_text" align="left" valign="top"&gt;&lt;span class="writer"&gt;FX Harsono&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                           &lt;td class="writer" align="left" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                           &lt;td class="body_text" align="left" valign="top"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;Seniman sebagai mahluk sosial selalu berusaha berkomunikasi dan berinteraksi  dengan masyarakatnya, maka sejak seni rupa modern ada di Indonesia, komunitas  seni rupa selalu tercipta dengan sendirinya. PERSAGI, kemudian tumbuhnya sanggar-sanggar,  adalah bukti dari keinginan para seniman untuk berdialog dan belajar dari para  seniornya. Pada awalnya sanggar adalah tempat bagi seniman muda untuk belajar  pada seniman yang lebih senior. Sistem pembelajaran pada sanggar dikenal dengan  &lt;em&gt;cantrikisme&lt;/em&gt;. Dimana seseorang seniman senior dianggap sebagai patron yang yang harus dianut  gaya melukisnya, pikirannya hingga gaya hidupnya. Tata-cara kehidupan komunal  dipakai sebagai tata cara hidup anggota sanggar, sehingga privasi boleh dibilang  sangat tipis. Pada awal tahun 1960-an sanggar-sanggar berada di bawah naungan  partai-partai politik, sehingga ideologi partailah yang menjadi landasan penciptaan  kesenian. LEKRA sebagai lembaga kebudayaan Partai Komunis Indonesia pada tahun  itu sangat kuat. Sehingga sanggar Bumi Tarung yang berada di samping gedung ASRI,  di Gampingan Yogyakarta, merupakan komunitas seni rupa yang paling kuat pada saat  itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi ideologi partai menjadikan sanggar-sanggar sebagai alat untuk mensosialisasikan  ideologi partai pada masyarakatnya. Kalau kemudian tudingan bahwa karya seni sebagai  alat politik atau lebih dikenal sebagai &lt;em&gt;politik sebagai panglima&lt;/em&gt; dalam karya seni, hal ini sangatlah beralasan. Perubahan besar terjadi setelah  kalahnya PKI dari kancah perpolitikan dengan tuduhan makar. Sejak itu sanggar-sanggar  dibawah partai politik menjadi tidak populer lagi, terjadi politik phobia atau  trauma politik pada kalangan seniman. Hal ini dikarenakan banyaknya seniman-seniman  eks LEKRA yang dipenjarakan atau dibunuh. Selain itu, kebijaksanaan pemerintah  melakukan depolitisasi terhadap semua bidang dalam kehidupan termasuk kesenian.  Hanya ada satu sanggar yang hidup yaitu, Sanggar Bambu 59 yang tidak bernaung  dibawah partai politik. Sanggar ini melahirkan pelukis-pelukis muda yang potensial  saat itu dan saat ini masih berbekas. Danarto adalah salah satu jebolan Sanggar  Bambu. Kemudian yang lebih muda lagi adalah Bonyong Munni Ardhi, Siti Adiati,  Murtoyo Hartoyo, Nanik Mirna, Ris Purwono dan saya sendiri. Dimana para perupa  muda ini adalah eksponen Sanggar Bambu. Kemudian Dadang Kristanto juga jebolan  sanggar Bambu.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Pada awal 1970-an, sanggar mulai dirasakan kurang bisa menampung aspirasi  seniman muda pada saat itu. Sistem pendidikan &lt;em&gt;cantrikisme&lt;/em&gt;, kehidupan yang komunal, visi kesenian yang dianggap terlalu kuno, menyebabkan  sanggar mulai ditinggalkan. Pada 1972 di Yogyakarta mulai muncul kelompok-kelompok  pelukis muda yang mencoba masuk dalam kancah seni rupa tanpa melalui aktivitas  pameran dari lembaga pendidikan dimana mereka belajar atau galeri. Kelompok Lima  Pelukis Muda Yogyakarta (KLPMY), yang merupakan cikal bakal eksponen Gerakan Seni  Rupa Baru di Yogyakarta. Kemunculan KLPMY disusul dengan Kelompok Nusantara, yang  terdiri dari Agus Dermawan &amp;amp; Suatmaji dll. Dan klimaks dari aktivitas perupa  muda ini ketika Sanento Yuliman almarhum, mempertemukan KLPMY dengan Jim Supangkat  dan kawan-kawan dari Bandung. Segeralah terbentuk Gerakan Seni Rupa Baru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GRSB kemudian disusul oleh kelompok Kepribadian Apa atau PIPA, yang dimotori  oleh Bonyong Munni Ardhi, Gendut Riyanto, Haris Purnama, Ronald Manulang, Redha  Sorana dan lain-lainnya. Kelompok ini dikenal sebagai kelompok yang paling radikal  pada masa itu. Beberapa kali pameran selalu digrebeg polisi dan pameran pertamanya  ditutup atau dilarang oleh polisi sebelum dibuka. Pasalnya dalam pameran tersebut  terdapat gambar-gambar pornografi, namun mereka ngotot pameran ini dibuka. Akibatnya  bisa ditebak, beberapa orang diinterogasi dan pameran ditutup. Kritik sosial sangat  terasa dalam pameran ini, bahkan para dosen STSRI ASRI menggangapnya sangat vulgar  dan tidak bermutu. Pada akhir 1970-an, tepatnya tahun 1979. Gerakan Seni Rupa  Baru membubarkan diri. Tekanan demi tekanan pun mengakibatkan komunitas-komunitas  seni rupa lainnya bubar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita amati gerakan atau komunitas seni rupa dari sistem kesanggaran  hingga kelompok-kelompok, ada pergeseran ideologis. Sanggar lebih menekankan pendidikan  dan pendidikan atau apresiasi seni ke masyarakat melalui pendidikan nonformal  dan pameran di desa-desa dan kota-kota kecil. Gerakan sanggar dalam melakukan  pendidikan dan apresiasi seni pada masyarakat diawali oleh Sanggar Pelukis Rakyat  yang berdiri setelah kemerdekaan RI dan dimotori oleh Sudarso, Batara Lubis dan  beberapa pelukis Yogyakarta. Mereka menyadari bahwa seni tidak dimengerti oleh  masyarakat, kalau masyarakat tidak mengenal seni, maka seniman tidak bisa hidup.  Maka masyarakat harus diperkenalkan pada seni. Mereka mengadakan pendidikan seni  rupa secara cuma-cuma. Para pemuda yang tertarik untuk belajar melukis, mematung  dan sebagainya boleh tinggal di sanggar tanpa bayar. Seniman sekaligus pengajar  dengan tujuan pengembangan seni dipakai sebagai landasan berdirinya sanggar-sanggar,  hingga kemudian sanggar dimana seniman tinggal dan berkarya dianggap potensial  sebagai sarana untuk mengkampanyekan ideologi partai, karena seniman dekat dengan  rakyat. Ideologi nasionalisme sangat kuat mewarnai karya-karya pada masa itu.  Salah satu penolakan ideologi realisme sosial ala Soviet—yang di sarankan sebagai  landasan penciptaan lukisan oleh LEKRA—menurut pematung dan pelukis Amrus Natalsya  adalah rasa nasionalisme. Pencarian identitas nasional menjadi isu kuat disamping  pengajaran terhadap masyarakat dan kampanye ideologi partai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kelompok-kelompok pelukis muda dan GSRB lebih menekankan ideologi  estetis yang menolak modernisme dan seni sebagai media kritik terhadap kekuasaan,  yang pada waktu itu terasa menekan—terutama melalui institusi pendidikan. Sistem  pendidikan juga memakai nilai-nilai estetika yang bersumber pada seni rupa modern,  sebagai ukuran keberhasilan suatu karya. Penerapan nilai-nilai ini dirasakan sebagai  belenggu yang mengungkung kebebasan berkarya. Selain itu hampir seluruh kritik  di luar lembaga pendidikan pun dirasakan sebagai penerapan nilai yang tidak lagi  mampu memberikan peluang bagi tumbuhnya nilai-nilai estetika yang punya akar pada  kebudayaan dan permasalahan masyarakat Indonesia.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Dalam hal ini, dirasakan adanya kontradiksi antara keinginan untuk mencari keindonesiaan  dengan nilai-nilai Barat yang dipakai sebagai ukuran penilaian terhadap karya-karya  seni rupa. Pada satu sisi penciptaan karya seni tumbuh dari kebudayaan, permasalahan  sosial, politik dan ekonomi masyarakat Indonesia, dimana seniman hidup. Sementara  penilaian karya seni memakai acuan nilai berakar pada kebudayaan Barat. Penolakan  segala teknis penciptaan, media yang lazim dipakai oleh seniman ditolaknya, dengan  tujuan untuk mencari nilai-nilai baru yang punya akar kebudayaan dan sosial dimana  karya tersebut diciptakan, sehingga penilaian tidak lagi bersandar pada modernisme  dari Barat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan setelah GSRB adalah keberpihakan perupa terhadap masyarakat yang  tertindas. Pergeseran bentuk komunitas yang semula adalah komunitas perupa, kini  komunitas berkembang antara perupa dan masyarakat yang termarjinalisasi dalam  proses pembangunan pemerintahan Orde Baru, seperti yang dilakukan Moelyono dengan  Seni Rupa Penyadaran-nya. Kesadaran emansipatif dan partisipatif antara seniman  dan masyarakat sangat ditekankan. Seniman dan masyarakat berada pada posisi yang  setara, masing-masing sebagai subyek dan proses penciptaan karya seni rupa bersifat  kolaborasi. Pada kegiatan di komunitas metoda ini memberikan dampak yang nyata,  dimana masyarakat merasa menemukan suatu media ungkap bukan saja tentang masalah  yang bersifat individual, melainkan pada tingkat lokal. Bagaimanapun pada konteks  ini, ada semacam kerancuan persepsi antara karya komunal dan individual, dimana  pesan sosial tersebut dipertanyakan dengan menimbang aspek kepentingan individual  dengan mengeksploitir gagasan kerakyatan. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Sejak akhir 1980-an ketika terjadi “Boom seni lukis” terjadi, banyak perupa  merasakan adanya dominasi galeri komersial dalam menentukan nilai-nilai estetis  suatu karya. Pasar yang seharusnya tidak merambah dan menjadi penentu nilai suatu  karya seni tiba-tiba menjadi penentu yang cukup dominan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran  bagi sejumlah seniman yang mana penciptaan karya seninya tidak berorientasi ke  pasar. Berdirinya Galeri Cemeti, yang berdiri pada 1988, di Yogyakarta, sebagai  galeri alternatif agar bisa menyediakan ruang bagi perupa-perupa muda yang tidak  menghendaki nilai estetis suatu karya didominasi oleh pasar. Mulai saat itu muncul  istilah galeri alternatif. Dimana galeri yang menampilkan karya-karya yang tidak  bertujuan memenuhi selera pasar disebut sebagai alternatif, karena menawarkan  karya-karya seni rupa yang bersifat alternatif. Jadi saat itu kebutuhan akan ruang  pamer di luar galeri komersial dibaca sebagai kebutuhan akan ruang untuk menampilkan  karya-karya bernafaskan pembaruan yang jauh dari pasar dan sekaligus untuk menciptakan  komunitas seni rupa dan ruang dialog. Kesadaran bahwa aktivitas kesenian bukan  hanya sekitar dunia penciptaan, melainkan juga membangun wacana, infrastruktur  jaringan, pendokumentasian dan penelitian, maka Galeri Cemeti (yang kemudian berubah  nama menjadi Rumah Seni Cemeti atau RSC) kemudian membentuk Yayasan Seni Cemeti.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Kiprah RSC menjadikannya sebagai barometer perjalanan seni rupa kontemporer  di Yogyakarta dan di Indonesia hingga pertengahan 1990-an. Kehadiran RSC disusul  dengan munculnya komunitas-komunitas lain di Yogyakarta.  Sekitar pertengahan  1990-an di Yogyakarta mulai muncul komunitas seni rupa di  luar RSC, seperti Apotik Komik, Taring Padi, Galeri Benda, Kedai Kebun dan Gelaran  Budaya. Di Bandung, muncul galeri seperti Selasar Sunaryo, yang diikuti oleh kelahiran  ruang-ruang seni lainnya seperti Rumah Proses, Galeri Padi, Galeri Fabriek, Komunitas  Kopi Pait, Gerbong Bawah Tanah, Bandung Center of New Media Arts dan Jejaring  Artnetwork. Hubungan-hubungan yang terjadi antara komunitas-komunitas ini menarik  untuk  dikaji, misalnya tegangan yang terjadi antara Cemeti dengan komunitas-komunitas  lainnya di Yogya. Beberapa anggapan menyebutkan bahwa kehadiran komunitas-komunitas  yang lain tersebut merupakan sebuah aksi tandingan terhadap posisi Cemeti sebagai  ‘barometer’, semacam pertentangan ideologis di kancah ruang alternatif itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari deskripsi di atas, kita dapat menarik beberapa poin yang menarik. Pertama  yang cukup menonjol adalah masalah ideologi. Jargon-jargon heroik nampaknya hanya  berhenti pada tataran ideologis, sementara pada tataran proses penciptaan mengalami  kendala. Kendala yang paling nyata yang saya lihat adalah kesadaran ideologis  ini tidak merata dikalangan anggotanya, sehingga aktivitas yang disebut praksis  tidak dilakukan dengan baik dan intensif. Demikian juga penolakan terhadap galeri  tidak sepenuhnya diterima oleh anggotanya, sehingga beberapa diantara mereka aktif  pada kegiatan beberapa galeri. Kendala lain adalah, kesadaran ideologis justru  membelenggu mereka, sehingga keberanian untuk melakukan eksplorasi estetis tidak  ada. Eksplorasi estetis bagi mereka adalah identik dengan aktivitas seni rupa  yang bersifat elitis dan tidak mampu dipahami oleh masyarakat kebanyakan.  &lt;br /&gt;       Pada sisi perkembangan lain, kerja kolektif dan ruang publik menjadi  wacana  yang membuka celah lain. Kerja kolektif (yang didasari semangat bermain) bisa  berarti kerja bersama-sama setelah tema ditentukan, bisa juga masing-masing individu  membuat karya dengan tema yang sama. Kegiatan penciptaan seni rupa ini barangkali  merupakan cermin dari kehidupan individu dalam masyarakat modern. Dimana ikatan  sosial mulai renggang, namun tidak sepenuhnya longgar, sementara peran dan kebebasan  individu sebagai cerminan dari pengaruh kebudayaan modern dihargai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tarik lebih jauh lagi, maka sangat mungkin bahwa aktivitas penciptaan  adalah sebuah permainan yang dihasilkan dari ketegangan antara kebebasan individu  dan ikatan sosial yang menghasilkan sifat komunal.  Ikatan sosial dalam budaya  tradisional yang dianggap penting dan merupakan ikatan  kekeluargaan yang tidak bisa ditinggalkan, kini oleh generasi muda kota dianggap  terlalu membatasi kebebasan individu dan kuno. Dikotomi antara modern dan tradisi  dalam kehidupan masyarakat dirasakan bukan lagi sebagai konflik, tetapi sebagai  keadaan yang sudah seharusnya terjadi. Bahkan oleh beberapa generasi muda dan  disikapi sebagai pengkayaan khasanah budaya yang bisa memberikan inspirasi seni  mereka.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Ruang publik juga dianggap sebagai ruang pertemuan yang strategis antara masyarakat  dan karya seni selain itu ruang publik adalah alternatif bagi para seniman yang  mengalami kesulitan untuk menembus galeri-galeri formal. Keterbatasan untuk melakukan  negosiasi dengan pemilik galeri, keterbatasan untuk tampil dan berkomunikasi secara  formal, semua ini ikut mendorong mereka untuk tampil di depan publik tanpa harus  melalui jalur formal, yaitu galeri. Dengan demikian ruang pamer bukanlah satu-satunya  tempat untuk memamerkan karya, mereka bisa berpameran di mana saja.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Sampai disini mulai terasa adanya pergeseran atau pengembangan terhadap arti  ruang. Ruang tidak lagi diartikan sebagai sekadar tempat memajang lukisan, tetapi  juga dimana sebuah komunitas bisa membangun suatu dialog. Ruang tidak lagi terasa  angker, dimana hanya bolah didatangi oleh masyarakat berpendidikan dan kelas menengah  ke atas. Ruang tidak lagi dibatasi oleh dinding dan atap, tetapi juga tempat di  mana publik setiap hari melakukan aktivitas sehari-hari, melakukan perjalanan  dan sebagainya. Pergeseran arti ruang menyebabkan penamaan galeri saja tidak cukup  bagi sebuah tempat berpameran. Rumah seni atau &lt;em&gt;art house&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;art space &lt;/em&gt;adalah perluasan dari galeri yang semula lebih mengutamakan pameran seni lukis  dan berorientasi pada pasar. Sedangkan rumah seni, menyelenggarakan aktifitas  seni rupa dalam batasan yang lebih luas, &lt;em&gt;performance art, video art&lt;/em&gt;, seni digital, seni musik dengan kecenderungan penggarapan visual yang menonjol.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah seni tidak selalu membangun komunitas seni rupa. Sedangkan komunitas seni  rupa adalah institusi dimana sekelompok seniman bergabung untuk menciptakan sebuah  ruang untuk berinteraksi, berdialog dan merepresentasikan gagasan dalam bentuk  karya dan berkolaborasi. Sedangkan ruang untuk merepresentasikan karya-karya mereka  bisa dilakukan ditempat lain, artinya komunitas ini tidak selalu mempunya ruang  pamer, meski ada juga komunitas yang mempunyai ruang pamer.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Eksplorasi yang dilakukan komunitas-komunitas baru ini juga memungkinkan kemungkinan-kemungkinan  yang tak terbatas dalam pengolahan media, seperti yang bisa dilihat dari gejala  belakangan ini, dimana pengolahan media baru (&lt;em&gt;new media&lt;/em&gt;) banyak dilakukan oleh komunitas-komunitas seni rupa, terutama di Bandung dan  Jakarta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas-komunitas yang tumbuh bagai jamur di musim hujan tiga tahun belakangan  ini, yang pasti sangat positif bagi terciptanya demokratisasi dalam kebudayaan.  Keragaman memang tak terelakkan, hal ini juga menghancurkan mitos pusat dan pinggiran  atau pusat dan periferi, maka dari itu lembaga-lembaga yang berorientasi untuk  menjadi pusat—seperti Dewan Kesenian Jakarta—haruslah merevisi habis-habisan konsep  kelembagaan dan mental para pejabatnya yang merasa sebagai penguasa kesenian.  Kesadaran baru harus disuarakan, bahwa demokrasi bukan saja melekat pada kehidupan  politik saja, melainkan juga pada sektor kehidupan lainnya termasuk kebudayaan.                            Kesadaran ini amat penting bagi terselenggaranya kehidupan  kesenian agar lembaga-lembaga  pemerintahan pusat atau daerah, serta lembaga-lembaga dana yang selama ini hanya  melihat bahwa proses demokratisasi ada dalam kehidupan politik, mulai memberi  perhatian besar pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup komunitas-komunitas kesenian  sebagai kantong-kantong kebudayaan yang ikut membangun demokrasi kebudayaan.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Namun demikian pertumbuhan komunitas-komunitas ini haruslah di kritisi dan diteliti  untuk memberikan gambaran yang jelas perubahan kebudayaan apa yang sedang terjadi  saat ini. Apakah ini pertanda telah pulihnya iklim demokrasi dan kebebasan kreatif  setelah jatuhnya Soeharto? Ataukah pengaruh dari perkembangan seni rupa dunia?  Juga mampukah komunitas-komunitas ini menampilkan kelokalan yang mampu mengantisipasi  proses globalisasi seni yang terjadi saat ini, sementara ideologi estetis yang  melandasi aktifitas komunitas-komunitas tersebut belum jelas?  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Untuk itu dibutuhkan penelitian, penerbitan, pendokumentasian dan pengkajian  secara teoritis  perkembangan seni rupa kontemporer. Telaah terhadap pertumbuhan  komunitas dengan  latarbelakang ideologinya sama pentingnya dengan acara-acara &lt;em&gt;bienniale &lt;/em&gt;atau pameran besar dengan tema mencari kelokalan, penting untuk mengantisipasi  terhadap perkembangan seni rupa dunia saat ini, dimana keberadaan seni rupa dunia  ketiga dalam percaturan seni rupa dunia telah menjadi kenyataan sejak dua dasawarsa  belakangan ini. Kenyataan  ini tidak menjadikan posisi seni rupa dunia ketiga  sejajar dengan negara-negara  Eropa dan Amerika, hegemoni Eropa dan Amerika masih terasa. Hal ini bisa ditengarai  bahwa wacana lokal tidak selalu mendapat ruang yang cukup untuk diakomodir. Hegemoni  juga terasa dengan model-model kuratorial dalam lokasi internasional maupun regional  yang ditentukan oleh penyelenggara (baca Dunia Pertama). &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Namun hegemoni ini menjadi tersamar ketika label multikultural disematkan pada  setiap kegiatan, sehingga  banyak perupa maupun para kurator yang terlibat dalam  kegiatan besar, regional  maupun internasional tak menyadarinya. Dunia ketiga ternyata juga tak mampu diterjemahkan  konsep multikultural secara baik, semua ini bisa dilihat dari ketidakmampuan membaca  wacana lokal dalam konteks budayanya. Sementara agenda-agenda besar dengan label  pertukaran kebudayaan, lintas budaya atau apalah yang bernafas multikultural diselenggarakan  tanpa konsep yang jelas. Contohnya adalah, dalam hitungan hari, minggu atau bahkan  bulan sekalipun seseorang diharapkan mampu memahami budaya bangsa lain. Sementara  fasilitas dan program dialog antarperupa tidak pernah dirancang dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;color:#666666;"&gt;&lt;strong&gt;FX Harsono&lt;/strong&gt; adalah seorang perupa, penulis kritik masalah-masalah sosial dalam  seni rupa dan seorang dosen seni rupa. Tinggal dan bekerja di Jakarta, Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;color:#666666;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;color:#666666;"&gt;: Saya menggunakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;color:#666666;"&gt; istilah meraba untuk judul tulisan ini, karena memang belum jelas, jadi perlu  ada penelitian yang lebih komprehensif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3710819030138743068-2311849857635775858?l=karaccaarts-craft.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/feeds/2311849857635775858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3710819030138743068&amp;postID=2311849857635775858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default/2311849857635775858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default/2311849857635775858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/2008/12/meraba-peta-komunitas-seni-rupa.html' title='Meraba peta komunitas seni rupa Indonesia'/><author><name>Karacca01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15202769962580860725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mMRmJNwDXyw/Si_Df6dG2gI/AAAAAAAAAoM/RhKHTulWWOE/S220/Foto(465).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3710819030138743068.post-8783619348084036815</id><published>2007-12-03T08:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T16:59:28.403-08:00</updated><title type='text'>Homewares craft</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/homewares-craft-01.html"&gt;Homewares craft 01&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkS2-8VcLI/AAAAAAAAAD0/N2ukeyKy96U/s1600-h/01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkS2-8VcLI/AAAAAAAAAD0/N2ukeyKy96U/s400/01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064599991773130930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;It is a company specializing in making handicrafts made from natural materials such as bamboo, wood, stone, terracotta, stone, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We are also production and export of Table Lamps, Wooden Photo Frames, Wooden Mirror Frames, Natural Stone, Candle Holder and decorative Bowls and modern-living pine wood furniture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All products are purely handcrafted, making them unique and have artistic value. Since they are made of natural materials, they are environmentally friendly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our handicrafts are sure will give beauty to your homes. Our functional handicrafts like decorative vase will give you a unique and exotic outfit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;     &lt;div class="post-footer"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                        &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="6611567158283339776"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/order.html"&gt;ORDER&lt;/a&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Placing an order is simple. Please email us your inquiry with the following information:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Models and quantity&lt;br /&gt;* Other requirement for the products (if any)&lt;br /&gt;* Your name and complete address&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will process your order and then email you out a quote for your order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you agree with the price, please confirm us by transfering the 50% Deposit for your Order to our Bank account. While the production time we will keep you updated about your order. Finally we will inform you about the shipping date and ask you to transfer the balance due for your merchandise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please email us at : karisyogya@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;     &lt;div class="post-footer"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;                                     &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="5376323987748826915"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/homewares-craft-02.html"&gt;Homewares craft 02&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkR_u8VcKI/AAAAAAAAADs/0DsPwjnEJKY/s1600-h/02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkR_u8VcKI/AAAAAAAAADs/0DsPwjnEJKY/s400/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064599042585358498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;The development of Tourism was in the Bantul Regency aimed to make tourism become the sector of the mainstay in increasing PAD (the original opinion the area). In 2000, the contribution from tourism against PAD of Rp 1.788 billion and was aimed at during 2004 to Rp 5 billion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;     &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/homewares-craft-03.html"&gt;Homewares craft 03&lt;/a&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkRUu8VcJI/AAAAAAAAADk/qBUjUHCkcPM/s1600-h/03.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkRUu8VcJI/AAAAAAAAADk/qBUjUHCkcPM/s400/03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064598303850983570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;The other target of the development of tourism was to increase the flow of the visit of foreign tourists from 2,517 people per the month during 2000 to 2,726 people per the month in 2004. Whereas Indonesian Archipelago tourists from 123,350 people per the month in 2000 became 134,100 people per the month in 2004.&lt;/p&gt;             &lt;/div&gt;     &lt;div class="post-footer"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;                                                                          &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="4850208356555810428"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/homewares-craft-04.html"&gt;Homewares craft 04&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkQje8VcII/AAAAAAAAADc/Cpy0svaSLX0/s1600-h/04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkQje8VcII/AAAAAAAAADc/Cpy0svaSLX0/s400/04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064597457742426242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The Bantul regency had various interesting tourist attractions both the nature tour, the artificial tourist attraction and petilasan historic. Apart from having nature scenery that captured many tourist attractions that had the spiritual value and the myth for the Javanese community. The south tour of coastal nature was still becoming the aim of tourists's favourite. Regional Government Bantul made an effort to develop the sector of the tour. By developing the new tour region like the Seni Gabusan Market, developed the special and constructive interest tour the infrastructure of the supporter of tourism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt;                                     &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="2348213240774078077"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/homewares-craft-05.html"&gt;Homewares craft 05&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;div class="post-footer"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkP6u8VcHI/AAAAAAAAADU/crOfSbVw_I8/s1600-h/05.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkP6u8VcHI/AAAAAAAAADU/crOfSbVw_I8/s400/05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064596757662756978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Moreover the Bantul Regency had the potential for the Bantul tour of the Community's culture in a manner for generations held on firm in the tradition and the Javanese culture that adiluhung. In beberbagai the territory was in the Bantul Regency gotten by the tradition that continued to be conserved from the generation to the generation namely the ritual ceremony traditional as means of revealing the feeling thank heavens on the overflow of fortune from the Lord but also in honour of the ancestors. The ritual ceremony that was held was known with the ceremony merti the village, labuhan, et cetera. Traditional art like the puppet, gamelan music, the dance was still continuing to be conserved by the Bantul community.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Homewares craft 06&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt;&lt;a href="http://homewares-craft.blogspot.com/2007/05/homewares-craft-06.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                      &lt;/h3&gt;                        &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkPFO8VcGI/AAAAAAAAADM/bWD0YzLuvEM/s1600-h/06.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkPFO8VcGI/AAAAAAAAADM/bWD0YzLuvEM/s400/06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064595838539755618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Various methods to achieve this target was carried out through the Pengembangan Program of the Pariwisata Product and the Pemasaran Program of Tourism.The development program of the tourism product in part in the form of the activity: the physical development of the tourist attraction, the increase in the attraction of the tour, the RDTOW compilation the south coastal region, the formation of the tour village and diligence, pushed the private sector in the tourism field et cetera.(homewares-craft.blogspot.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3710819030138743068-8783619348084036815?l=karaccaarts-craft.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/feeds/8783619348084036815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3710819030138743068&amp;postID=8783619348084036815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default/8783619348084036815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default/8783619348084036815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/2007/12/homewares-craft.html' title='Homewares craft'/><author><name>Karacca01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15202769962580860725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mMRmJNwDXyw/Si_Df6dG2gI/AAAAAAAAAoM/RhKHTulWWOE/S220/Foto(465).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkkS2-8VcLI/AAAAAAAAAD0/N2ukeyKy96U/s72-c/01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3710819030138743068.post-3489420417077408125</id><published>2007-12-03T07:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T16:59:29.259-08:00</updated><title type='text'>Lighting Craft</title><content type='html'>Lighting Craft 1&lt;a name="2559973702361859767"&gt;&lt;/a&gt;                                    &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXmM-8Vb-I/AAAAAAAAACQ/m9A0VjOAAFs/s1600-h/lighting+craft+05.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXmM-8Vb-I/AAAAAAAAACQ/m9A0VjOAAFs/s400/lighting+craft+05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063706466776870882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;We are also production and export of Table Lamps, Wooden Photo Frames, Wooden Mirror Frames, Natural Stone, Candle Holder and decorative Bowls and modern-living pine wood furniture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All products are purely handcrafted, making them unique and have artistic value. Since they are made of natural materials, they are environmentally friendly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our handicrafts are sure will give beauty to your homes. Our functional handicrafts like decorative vase will give you a unique and exotic outfit.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lighting-craft.blogspot.com/2007/05/lighting-craft-2.html"&gt;Lighting Craft 2&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXfd-8Vb9I/AAAAAAAAACI/h80SMdLG8IM/s1600-h/lighting+craft+01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXfd-8Vb9I/AAAAAAAAACI/h80SMdLG8IM/s400/lighting+craft+01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063699062253252562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lighting Or Lamp Part Supplies&lt;/p&gt;             &lt;/div&gt;                                             &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="5753863003379164244"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://lighting-craft.blogspot.com/2007/05/lighting-craft-3.html"&gt;Lighting Craft 3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXehe8Vb8I/AAAAAAAAACA/bCeOEeIeTlg/s1600-h/+lighting+craft+02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXehe8Vb8I/AAAAAAAAACA/bCeOEeIeTlg/s400/+lighting+craft+02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063698022871166914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;                                     &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="7389261670140488377"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://lighting-craft.blogspot.com/2007/05/lighting-craft-4.html"&gt;Lighting Craft 4&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXdH-8Vb7I/AAAAAAAAAB4/2HggpS2VUHs/s1600-h/lighting+craft+03.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXdH-8Vb7I/AAAAAAAAAB4/2HggpS2VUHs/s400/lighting+craft+03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063696485272874930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;                                     &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt;     &lt;a name="3868183110090230543"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://lighting-craft.blogspot.com/2007/05/lighting-craft-5.html"&gt;Lighting Craft 5&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                 &lt;div class="post-body entry-content"&gt;       &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXcme8Vb6I/AAAAAAAAABw/LJBd_yrkAdY/s1600-h/lighting+craft+04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXcme8Vb6I/AAAAAAAAABw/LJBd_yrkAdY/s400/lighting+craft+04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063695909747257250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;                                          &lt;a name="8095395671308936288"&gt;&lt;/a&gt;            &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;                          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://lighting-craft.blogspot.com/2007/05/lighting-craft-6.html"&gt;Lighting Craft 6&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/h3&gt;                        &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXbVe8Vb5I/AAAAAAAAABo/5kUHusykcgA/s1600-h/lighting+craft+06.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXbVe8Vb5I/AAAAAAAAABo/5kUHusykcgA/s400/lighting+craft+06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5063694518177853330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Handicraft, also known as craftwork or simply craft, is a type of work where useful and decorative devices are made completely by hand or using only simple tools. Usually the term is applied to traditional means of making goods. The individual artisanship of the items is a paramount criterion, such items often have cultural and/or religious significance. Items made by mass production or machines are not handicrafts.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3710819030138743068-3489420417077408125?l=karaccaarts-craft.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/feeds/3489420417077408125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3710819030138743068&amp;postID=3489420417077408125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default/3489420417077408125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3710819030138743068/posts/default/3489420417077408125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karaccaarts-craft.blogspot.com/2007/12/lighting-craft.html' title='Lighting Craft'/><author><name>Karacca01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15202769962580860725</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mMRmJNwDXyw/Si_Df6dG2gI/AAAAAAAAAoM/RhKHTulWWOE/S220/Foto(465).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CGX7HCw73nA/RkXmM-8Vb-I/AAAAAAAAACQ/m9A0VjOAAFs/s72-c/lighting+craft+05.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
